Gak terasa, sudah 80 tahun sejak Soempah Pemoeda pertama kali diucapkan.
Selama itu, aku cuma kenal Soempah Pemoeda dari apa yang diajarkan guru sejarah di kelas, sejak SD sampai SMA.
Tapi baru sekarang aku ngerasa, bahwa Soempah Pemoeda ternyata punya arti buat hidupku.
(~Harusnya memang gitu, kan?~)
———-
SOEMPAH PEMOEDA
Pertama:
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua:
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga:
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928
———-
(teks diambil dari sini)
Bingung ya bacanya?, yaudah, aku terjemahin ke EYD, deh…
SUMPAH PEMUDA
Pertama:
KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA MENGAKU BERTUMPAH DARAH YANG SATU, TANAH AIR INDONESIA
Kedua:
KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA, MENGAKU BERBANGSA YANG SATU, BANGSA INDONESIA
Ketiga:
KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA MENJUJUNG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA
Sumpah pertama: bertumpah darah satu, tanah air Indonesia.
Aku juga mengaku seperti itu. apalagi aku selama ini bersekolah dibiayai oleh Negara (Rakyat), aku gak akan mengkhianati Negara ini dengan bertanah air di negara lain..
Tapi sadar gak?, kita sering mengaku bertanah air Indonesia, tapi kita juga sering salah mengucapkan nama tanah air kita.
Coba hitung, berapa banyak di antara kita yang menyebut kata “Indonesia” dengan “ENDONESIA” atau kadang “ENDONESA?.”
Padahal kita bisa menyebut kata “INDIA”, “INDOSIAR”, “INDOMIE” dengan baik. Tapi giliran tanah air sendiri, kita sebut dengan ejaan yang salah “ENDONESIA”.
Kita dengan pedenya bernyanyi kagu kebangsaan Indonesia Raya dengan lantang. tapi yang terdengar: “ENDONESA RAYA, MERDEKA..MERDEKA” ck..ck..ck..
Sadar gak, bahwa banyak di antara kita yang seperti itu?.
Alhamdulillah, saat SMA, aku ikut Paduan Suara yang gurunya tegas banget sehingga ejaan “Indonesia” kami diperbaiki oleh beliau. Dan sampai sekarang alhamdulillah, saya terbiasa menyebut tanah air saya dengan sebutan yang sebenarnya: “INDONESIA”
Sumpah kedua: berbangsa satu, bangsa Indonesia.
Ya, saya berbangsa Indonesia. Saya orang Indonesia.
Mestinya, kalau kita sudah bersumpah seperti itu, sudah gak ada lagi donk yang bilang: “Saya orang Jawa,” “Saya orang Banjar,” “Saya orang Manado,” “Saya orang Jakarta,” “Saya orang bla bla bla…”
Mestinya kita cukup bilang: “Saya orang Indonesia!.”
Saya selalu berkata begitu tiap kali ada yang bertanya “Kamu orang mana?.” Tapi mereka tersinggung akan jawaban saya. Bingung kan?.
Kalau saja mereka nanya, “Rumah kamu di mana?,” atau “Kamu dari mana?,” akan saya jawab: “Banjarmasin.”
Tapi mereka nanya:”Kamu orang mana?.”
Suatu saat, ketika saya masih tinggal di Pamekasan, Madura, saya pernah ditanya:”Rumahnya di mana?.”
Saya jawab:”Pamekasan.”
“Oh, orang Madura?.”
“Bukan.”
“Orang mana?.”
Terpaksa saya jawab sesuai dengan salah satu daerah asal orang tua saya. (Orang tua saya pun sudah gak punya suku tetap. dua2nya campuran.) “Banjar.”
Kenapa Banjar?, kalau saya jawab dengan “Jawa.” orang-orang ngobrol sama saya pake Bahasa Jawa. padahal saya sama sekali gak ngerti. Karena di rumah, kami berbahasa Indonesia.
Kalau jawab “Banjar,” minimal, Bahasa Banjar kan masih Bahasa Melayu, miriplah sama Bahasa Indonesia (^_^)
Tapi mestinya pertanyaan itu gak perlu diucapkan. Sekarang saya tinggal di Banjarmasin, saya orang Banjar. Nanti kalau saya ditempatkan di Papua, saya akan jadi orang Papua?. Kenapa nggak? toh sama-sama Indonesia. Makanya saya sebenarnya lebih suka bilang kalau saya ini “Orang Indonesia.”
Sumpah ketiga: menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia yang baik dan benar,kan?
Kalau dengan dialek daerah masing-masing?
Gak ada masalah, kan?
Selama Bahasa Itu Bahasa Indonesia?
Yup.. Alhamdulillah, sumpah ketiga sudah dilaksanakan oleh sebagian besar pemuda Indonesia.
Kalaupun ada yang belum bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, itu hanya masalah pendidikan.
Tap ada satu yang saya sesalkan. Katanya menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia, Tapi kok orang Jawa masih suka berbahasa Jawa dimanapun dia berada, sih?. (>_<)
Di ruanganku (Di Banjarmasin, bahasa daerahnya Bahasa Banjar), ada lima orang yang bekerja di sana. Empat lainnya laki-laki dan orang jawa. Gak peduli ada aku di situ yang bukan orang Jawa dan tidak mengerti Bahasa Jawa, mereka berbincang di antara mereka sendiri dengan Bahasa Jawa.
Pernah ada penjaga warung di depan kantor nyapa aku dengan Bahasa Jawa. Aku bilang, “Aku gak ngerti!. Tolong pakai Bahasa Indonesia!.”
Eh, dia bilang, “Loh, bukannya semua orang bisa Bahasa Jawa?.”
“Hah?.”
Aku tahu, itu cuma oknum. (Tapi oknumnya kebanyakan!. waktu aku kuliah di Jakarta juga, anak-anak dari Jawa Tengah selalu ngobrol dengan Bahasa Jawa di antara mereka, dalam sebuah rapat, tanpa peduli ada orang yang gak ngerti di sebelahnya!).
Tapi oknum-oknum inilah yang bikin jelek nama Suku Jawa.
Karena aku belum pernah bertemu, di jakarta, (yang banyak suku), orang batak yang ngobrol dengan Bahasa Batak di antara mereka sementara ada orang non Batak di situ. Atau orang Minang, atau orang Manado. Kalau dalam forum mereka ada yang beda suku, mereka memakai Bahasa Indonesia. Orang yang memakai Bahasa Daerah di forum hanyalah yang berasal dari Jawa, loh.
Bingung, kan?
Jadi kayaknya, setelah 80 tahun berlalu, kita mesti melihat lagi, apa iya kita sudah melaksanakan isi Soempah Pemoeda?.
Anda juga bisa membaca artikel ini dalam Bahasa Inggris, di sini..
You can also read this article in English, here…











28 Oktober 2008 pukul 8:53 am
Sumpah Pemuda ya… kalo pemuda yang menyumpah-nyumpah gimana… beda ya… kikikik…
29 Oktober 2009 pukul 8:36 pm
aku wong jowo
29 Oktober 2009 pukul 9:21 pm
g smua orng jawa ky gt lg. .
walaw aq kya gt. . hehe susah ngomong slaen jw. .jowone wes medhok
situ sih enak banjar. . bs mlayu mirip2 ke bs indonesia. .
31 Oktober 2009 pukul 7:20 pm
stop liat dr si2 ngatif sdarkan kita dgn smagat bkn sndiran
4 November 2009 pukul 4:37 pm
manteb,,,,iki to jebul e…
boso jowo neh…hehe
mungkin kebayakan dari forum tu org jawa,,,
mohon maap kalo’ kita2 sering pake bhsjawa..
….
sebetulnya bhs jawa itu mudah loh…dr pada bahasa sunda…paling sulit mah…bahasa sunda..nieh gw kasi contoh….
apa(ind)…
kalo’ di jawa “opo”..
kalo’ di betawi “ape”..
kalo’ di padang “apo”..
lha kalo’ di sunda…aneh sendiri…malah,,”naon”..
hehehe
4 November 2009 pukul 4:39 pm
@syafaat.. mayan iki..pek’en dadi ujub…:D
sak drunge kedisikan aq loh…haha