Medali untuk Suamiku

the best husband ever

Aku ingin mempersembahkan sebuah medali untuk suamiku. Orang yang selalu ada di sampingku setiap malam, menemani tidur-tak-tenangku.


Di trimester ketiga ini, banyak banget cobaan yang mesti aku hadapi. Aku kena batuk-pilek akhir Ramadhan kemarin, sampai sekarang belum sembuh juga. Akhirnya aku mesti “tersiksa” sebelum tidur. Ya batuk, ya hidung mampet, ya nafasnya jadi berisik.

Ditambah lagi sesak nafas gara-gara massa bayi yang makin besar. Rasanya dada ini kosong, hampa udara, sehingga aku gak bisa bernafas. Mungkin diperparah sama hidung mampet kali, ya? Pokoknya tidur jadi ritual yang menyiksa.

Kemarin jadwalku kontrol ke obgyn. Obgynku menyarankan supaya aku menghentikan semua pengobatan batuk-pilekku karena ini adalah bawaan hamil. Obgynku juga menyarankan supaya aku tidur dengan banyak bantal sehingga bisa bernafas dengan lega.

Dan karena perkiraan massa bayiku sudah 2717 gram di usia 36 minggu, obgynku juga menyarankan aku untuk melakukan diet rendah lemak, rendah karbo, dan rendah glukosa agar massa bayi tidak berlebihan saat melahirkan nanti.

Tadi malam, suamiku membantu aku menyiapkan bantal-bantal untuk aku tidur. Ada dua bantal dan dua guling di tempat tidur kami. Ada dua bantal lagi di lemari gudang, tapi bantal-bantal itu belum dijahit setelah isinya “diobrak-abrik” sama suamiku🙂

Ceritanya, pukul 2 pagi, suamiku baru selesai mengetik skripsinya dan beranjak tidur. Dia membangunkan aku yang tidur dalam posisi duduk, dengan nafas yang sangat berisik. Seperti biasa, sekitar jam 2 pagi adalah waktu untuk aku pipis. Tiap jam segitu, aku pasti kebelet. Entah, sejak masuk trimester kedua, aku selalu terbangun jam 2-an untuk pipis.

Aku pun terbangun, dan langsung ngeluh: “gak enak tidur, Bang! bantalnya kurang tinggi.”
“Itu bantal di lemari pake aja!”
“Kan belom dijahit pinggirnya.”
“Sini, bawa sini! Pake peniti aja. Sini ambilin peniti, biar aku yang penitiin. Kamu pipis aja sana!”

Aku segera mencari peniti di kotak brosku. Agak susah, soalnya penitinya kecil-kecil di antara bros-brosku yang besar. Segera kuserahkan ke suamiku, dan aku ngacir ke kamar mandi.

Selesai menunaikan hajat kecilku, aku menemui suamiku di kamar. Bantal-bantal itu sudah rapi! Tinggal aku bungkus dengan sarung bantal, dan bisa kupakai. Menyenangkan sekali ^_^

Aku susun bantal-bantal itu. Dan akupun tidur, dan posisi yang nyaris duduk, tapi merasa nyaman. Nafasku pun gak terlalu berisik. dan dengan inhaler, hidungku gak terlalu mampet. Makasih, suamiku! kiss

Belum lagi, tengah malam gelap (lampu kamar selalu dimatikan), aku terbangun dan bingung sama inhalerku, –karena aku selalu tertidur sambil memegang inhaler-, suamiku pasti terbangun dan mencarikan inhalerku. Ah… sayangku.. ^_^

Makanya, aku pengen banget ngasih medali “The Best Husband Ever” buat suamiku tercinta ini. Tanpa dia, aku gak tau, apa aku bisa ngelewatin cobaan-cobaan kehamilan ini.

I love you, Hunny… You’re still the one!
911

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: