Pelajaran 2: Varisela

Pelajaran belum berakhir. Kali ini adalah edisi cacar air.

Orang tua mana yang gak sedih liat anaknya yang biasanya ceria, tiba-tiba jadi lesu?

Seminggu yang lalu, Zee demam. Sebelumnya memang aku melihat bentolan berair di daerah popoknya, aku pikir itu ruam popok, tapi kok demam?

Ternyata diagnosa dokter adalah cacar air alias varisela.

Kebetulannya adalah: dia didiagnosa terkena varisela hanya seminggu sebelum jadwalnya suntik vaksin varisela (^_^). That means dia gak perlu suntik varisela lagi. Hehehe..

Cuma aku sedihnya, dokter membawakan oleh-oleh setumpuk obat yang gak perlu. (T_T) Padahal sebagai dokter, mestinya beliau kan tau kalau varisela gak perlu obat. (T_T)
– Puyer yang harus habis diminum tepat waktu 5x sehari. Aku lihat sendiri di resepnya ada beberapa baris, kok ya di kopi resep cuma 1 baris yaitu asyclovir? Ada apa ini?
Harus habis, dan diminum tepat waktu, indikasi Antibiotik, nih! Varisela tidak butuh antibiotik! Apalagi bentuknya puyer! Obat ini aku singkirkan!

– Puyer untuk panas, diminum 3x sehari. Baca di kopi resep isinya sanmol dan diaz (diazepam). Wo wo wo.. Sanmol okelah, isinya cuma parasetamol, memang untuk penurun panas, tapi diazepam? Membaca di drugs.com, diazepam itu adalah obat untuk kejang demam, dan hanya efektif jika diberikan SAAT kejang terjadi. Jadi diazepam tidak efektif alias percuma diberikan apabila kejang telah terjadi, apalagi dengan niat mencegah kejang demam.
Lagipula, mestinya sang dokter nanya dulu donk ke aku (kami), orang tuanya, apa Zee punya riwayat kejang demam atau tidak. Secara, Zee TIDAK PUNYA riwayat kejang demam, jadi gak perlu yang namanya diazepam!
Belum lagi pemberiannya 3x sehari. Bukannya pemberian obat penurun panas itu SAAT panas tubuh 38,5 dercel ke atas? bukan 3x sehari! Jadi kalau si anak cuma panas 1x sehari, ya sekali itulah diberikan parasetamol. Aku pakai sanmolku sendiri saat Zee demam.

– Nystin drops (nystatin), katanya untuk mulutnya. Baca di drugs.com, nystatin itu obat antifungal. Antifungal itu kan anti jamur, ya? Memangnya mulut anakku berjamur? =>BUANG.

– Salep gentamisin. Haduh, lagi-lagi salep antibiotik. BUANG!!!

– Bedak salisil. Cuma ini yang masuk akal! Berguna untuk mengurangi gesekan pada bintil-bintil sehingga tidak pecah. Cuma “obat” ini yang aku berikan pada Zee.

Hikmah sakitnya Zee saat ini adalah supaya aku teguh memegang konsep RUM (Rational Use of Medicine). Walaupun kiri-kanan-depan-belakang, mengajakku untuk tidak berpikir dan bertindak rasional untuk merawat Zee yang sedang sakit cacar, aku harus teguh. Cacar air itu obatnya hanya pertahanan diri sang penderita dan paracetamol untuk menurunkan demam dan menyamankan penderita.

Mandi? Seperti biasa, tapi aku kasih dia ekstra air hangat selain supaya demamnya turun, juga supaya dia nyaman. Merasa sendiri, kalo badan gatel, mandi air anget.. wuihh.. nyaman sekali. ^_^
Dan usapan bedak salisil untuk mengurangi gesekan dan menyamankan badan karena mengandung mentol.

Sekarang Zee sudah baikan. Lesunya hanya karena memang dia kurang makan. Nafsu makannya berangsur pulih. Lukanya juga berangsur sembuh.

Senangnya, telah berhasil teguh, merawat anak dengan konsep RUM. (^_^)
Pesanku untuk para orang tua, kritislah pada obat yang diberikan dokter untuk anak kita, pastikan obat itu benar-benar dibutuhkan olehnya atau tidak. Juga cari tau manfaat dan efek samping obat itu di drugs.com, jangan sampai kita salah memberikan obat hanya karena itu diresepkan oleh dokter. Bagaimanapun dia adalah anak kita, kan? (^_^)

*bonus: relaktasi, karena Zee harus bedrest, aku jadi cuti untuk nemenin Zee ^_^

Zee with Varicella

9 Balasan ke Pelajaran 2: Varisela

  1. taproallisya mengatakan:

    Asyik sekali baca blog anda…ceria….senang….semoga bertambah dengan sharing saya di http://taproallisya.wordpress.com/syariah-2/

    Yeptirani:
    Terima kasih banyak, ya.. ^_^

  2. dela mengatakan:

    iya benerrr bgt,sering kita bselisih pendapat dgn orng2 terdekat yg kurang mengerti, sependapat

    Yeptirani:
    makanya mesti pinter2 ya kitanya?🙂

  3. husnul mengatakan:

    wah mba, sepakat sepakat
    kita sebagai ortu memang harus pintar2, dokter juga kan manusia, ga seharusnya kita manut manut aja atas semua yg dokter kasih.
    susahnya nih, klo menjelaskan hal ini ke org2 sekitar, padahal keluarga sendiri, duh sedihnya😥
    oh ya mba, berbagi informasi bagus, untuk maintenance kesehatan anak dan suamiku, aku selalu usahakan sistem imun keluarga OK, selain dengan lifestyle yg sehat aku konsumsi transfer factor mba. transfer factor itu penemuan terbaru dibidang sians, aku hanya menyebarkan informasi ini karena belum banyak yg tau, dokter juga dikit sekali yg tau ini.https://www.facebook.com/note.php?note_id=244582352267498

    Yeptirani:
    Yup.. banyak-banyak belajar ya.. ^_^

  4. Ryan Erlangga mengatakan:

    Kalo saya dan suami mengandalkan herbal mbak.. Alhamdulillah Adlan dari lahir sampe mo 6 bulan, baru sakit sekali batpil, itupun karena ketularan saya..😉

    Yeptirani:
    wah.. batpil itu penyakit langganan Zee, mbak.. dia kan sekolah, jadi ketemu virus bertebaran,,, hahaha…
    alhamdulillah kenal sama Milis Sehat, jadi gak panikan :p

  5. dr.Leon mengatakan:

    Antibiotik diberikan untuk mencegah infeksi sekunder saat vesikel pecah itu sangat rawan terinfeksi kuman, yg nantinya dapat berbekat sampai tua kalo tdk diberikan antibiotik.

    Kritis boleh tp jgn pernah suudzon, cri tau lebih lanjut dr berbagai sumber n narasumber yg terpecaya.

    Yeptirani:
    ahay.. infeksi sekunder… hehehe…
    selalu infeksi sekunder :p

    Jika sempat, bergabunglah dengan milis sehat, atau grup GESOBAT – gerakan sadar obat di facebook. Di sana banyak dokter dengan konsep RUM yang melayani “pasien” virtual. Di sanalah saya menimba ilmu dasar pengobatan dan medis sebagai dokter pertama bagi keluarga saya.

    di sana pula saya belajar, bahwa pemberian antibiotik pada viral infection bahkan akan berisiko menimbulkan infeksi sekunder itu :p

    ^_^

  6. flaboo mengatakan:

    asiklovir itu berfungsi sebagai antiviral. Memang untuk penggunaannya masih kontroversial, namun jurnal-jurnal penelitian mendapati dengan pemberian antiviral mempersingkat lama demam, mengurangi jumlah lesi, dan memperpendek lama sakit. Kemungkinan resep ditulis berbaris-baris karena penulisan untuk sediaan puyer memang agak panjang😛 Penggunaannya memang 5x sehari.

    Yeptirani:
    Kebetulan, saya adalah anggota gerakan non-puyer😀
    saya adalah anggota milis sehat yang mengajarkan bahwa jangan pernah memberi anak obat yang tidak perlu, apalagi puyer dan obat2an polifarmasi lainnya😀

  7. Fitri mengatakan:

    Mba, bekas cacarnya zee gimana cara ngilanginnya yaa, anakku azzam (6mo,14d)juga kena cacar, kasian bekasnya banyak banget..

    Yeptirani:
    yakin cacar, mbak?
    yang Zee gak ada bekasnya tuh mbak..🙂

  8. shera mengatakan:

    Pemberian gentamycin itu sudah tepat, kafena yg sering terjadi adalah infeksi sekunder dr infeksi virus jika tidak diberi salep antibiotik bekas luka cacar akan lebih dalam dan dr segi estetika kurang baik.

  9. dr.tomo mengatakan:

    obat dengan sediaan puyer itu dibuat untuk anak yang susah mengkonsumsi jenis tablet/ kaplet, jadi harus di buat dalam sediaan puyer dan biasanya di tambahkan rasa manis agar anak mau makan obat mba. antibiotik itu juga perlu, apalagi kalo anaknya suka garuk cacarnya, untuk mencegah infeksi sekunder tadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: