Perjuangan Memberikan yang Terbaik: Tetap ASI sampai 2 Tahun

Tidak terasa, sudah 2 tahun berlalu sejak aku muter-muter kota Pangkalpinang nyari dokter kandungan yang pro-normal, namun akhirnya sesar juga.

Kelahiran Zee yang melalui proses operasi tidak membuatku lantas berkecil hati dalam memenuhi hak dasarnya: ASI. Aku malah makin semangat karena mitosnya, ibu yang melahirkan sesar, ASI-nya lebih dikit timbang ibu yang melahirkan normal. Oke, itu mitos. Mitos itulah yang memicu semangatku untuk rajin pumping, sampai akhirnya Zee lulus ASI Eksklusif, terus rajin pumping dan rajin memasak makanan rumahan untuk Zee sampai Zee lulus ASI dan MPASI Rumahan tanpa Tambahan Garam dan Gula 1 Tahun, dan melanjutkan pumping dan menyusui agar Zee lulus ASI 2 tahun.

Kata orang, yang paling susah itu adalah ASI Eksklusif 6 bulan. Well, itu kata orang yang gak ngasih makanan rumahan ke anaknya!

Nyatanya, memberikan mpasi rumahan tanpa garam dan gula ternyata lebih sulit dari pada hanya ASI 6 bulan.

Katanya, setelah 1 tahun, semuanya akan lebih mudah. Nyata tidak, kok🙂
Memberikan ASI lanjutan sampai 2 tahun itu banyak tantangannya. Baik dari dalam maupun dari luar.

Lingkungan tempat aku tinggal masih belum menerima anak usia 1 tahun masih full ASI tanpa tambahan susu bubuk. Banyak sekali dorongan dan bujukan agar aku memberikan susu bubuk ke anakku. Tapi aku tetap bertahan pumping. Juga tetap bertahan memberikan makanan rumahan untuk Zee. Melarangnya makan makanan bungkusan.

Tantangan terberat muncul saat aku dikirim tugas ke Jakarta selama 5 hari. Saat itu Zee masih berusia 16 bulan. Masih senang-senangnya nenen. Kekhawatiran muncul di benakku, jangan-jangan dia gak mau nenen lagi setelah aku kembali. Oh, tidak!

Tapi dengan dukungan teman-teman di Grup FB AIMI, aku yakin, Zee akan nenen lagi setelah aku kembali. Dan ya, saat aku pulang, yang dia tanyakan pertama kali adalah: Nda… cucu! *gubrak*

Selama aku di Jakarta, juga bukan gampang. Minta ijin setiap 3 jam untuk pumping juga tidak mudah. Apalagi saat tutor bertanya: berapa usia anaknya?
Karena ketika aku menjawab: 16 bulan, rata-rata reaksinya adalah: sudah besar ini!

Biar sudah besar juga masih harus minum ASI, bo.. T_T

Sekitar 2 bulan setelah kepergian pertamaku, aku dikirim lagi ke Jakarta, 3 hari, pulangnya, langsung dikirim ke Gadog, Bogor, seminggu.

Dunia rasanya berputar jungkir balik. Stok ASIP di frizer tiba-tiba menipis tajam. Belum lagi selama di Gadog, di Pusat Pendidikan dan Pelatihanku yang kompleknya berbukit itu, aku harus “hiking” 4 kali sehari untuk pumping. Menyimpan ASIP di frizer Kepala Bagian Umum di bawah sedang kamarku ada di atas. Kelasku di bawah, kamarku di atas. Mantab pokoknya ^_^

Tapi semua sudah dilewati dengan baik. Sampai akhirnya Zee lulus ASI 2 tahun, dan disapih dengan cinta.

Menjelang Zee 2 tahun, cibiran yang aku terima makin banyak dan beragam. Zee yang usianya sudah 20 bulan ++ dan masih nenen, dibilang nanti akan gak bisa berhenti nenen lah, nanti manja lah, penakut lah, dan lain-lain, dan lain-lain.

Tapi aku bertahan, palingan aku jawab: di Al-Quran dibilang 2 tahun ya 2 tahun. Dan aku pergi😀

Buktinya, Zee dengan mudah menyapih dirinya sendiri kok🙂

Dan sekarang, aku akan berterima kasih pada orang-orang dan pihak-pihak yang telah membantu dan mendukungku sampai Zee lulus ASI 2 tahun. Mereka adalah:

Ayah Zulkifli Malin Sutan. Dukungannya agar Zee tetap ASI dan disapih dengan cinta sungguh luar biasa, terutama ketika beliau harus jadi single parent saat aku ke luar kota.

Nini Sjari Juniarsih. Yang bersemangat sekali agar cucunya disusui sampai sempurna 2 tahun.

Teman-teman di kantor. Yang mau membantu merawat Zee selama 1 jam tiap hari, dan menjaganya dari makanan yang aneh-aneh, serta memberi aku kesempatan untuk pumping.

PAUD Cerdas. Tempat Zee “bersekolah” yang patuh akan pemberian ASI pada Zee, dan menjaga Zee dari makanan-makanan aneh.

Milis Sehat. Yang terus mengawal aku untuk memberikan yang terbaik bagi Zee.

Grup Tambah ASI Tambah Cinta. Teman setia di kalan sepi. Teman berbagi di kala ramai.🙂

Grup Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia. Konselor virtual di saat galau. Terima kasih atas semua saran membangunnya.

Harapanku, Zee akan tumbuh menjadi anak yang sehat dan menyapih dirinya sendiri tanpa ketakutan dan deraian air mata.

Anak Cinta ASI Doktor ASI

4 Balasan ke Perjuangan Memberikan yang Terbaik: Tetap ASI sampai 2 Tahun

  1. lovelyristin mengatakan:

    Mbak.. Pengalaman mbak mencerahkan aku… Aku lg ksh asi full sampe skrg bayiku udh 11 bulan, sempat ragu asi tdk mencukupi, tmbh pake sufor, tp suami tdk mengizinkan, akhirny dgn enuh keyakinan dan Basmallah.. Aku yakin asiku msh byk, dan postingan ini lbh myakinkan aku… Trims *blogwalking….

  2. Nunung mengatakan:

    Assallmu’alaikum…
    Bunda… mw tanya ni, untuk tutup botol u ci 1000nya jga di sterilin?

    Makasih….

  3. Yeptirani mengatakan:

    Mbak Lovely.. semoga masih ASI ya..🙂

    Mbak Nunung… tutup botol UC cukup siram air panas aja..

  4. minarni mengatakan:

    Hmmm sama ni bunda ceritanya, sekarang anak ku sudah 1 tahun 3 bulan, tapi aku semangat sekali memberinya asi,, aku tidak peduli dengan kata kata orang orang terdekatku, bahkan neneknya sekalipun,, karena aku ingin jadi ibu yang memberikan hak terbaik untuk anaknya,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: