Perjuangan Memberikan yang Terbaik: Menyapih dengan Cinta

Apa tugas dan kewajiban seorang ibu pada bayinya? Banyak!
Tapi salah satunya adalah menyusui sampai masa penyempurnaan, 2 tahun.

Lalu apa setelah itu? Bagaimanakah masa-masa indah menyusui itu akan diakhiri? Bahagia dengan keikhlasan dan tawa, atau sedih dengan deraian air mata?

Aku memilih yang pertama!

Seperti yang kita tahu, di sekitar kita, jika ada anak yang disapih, maka penyapihannya begitu menyiksa. Oke, mungkin tidak semua. Tapi aku menyaksikan sendiri saat adikku dan adik sepupuku disapih dulu. Mereka menangis berderai-derai. Ibunya juga meringis menahan sakit payudara yang bengkak karena tidak lagi disedot. Apa itu yang akan terjadi padaku dan bayiku?

Aku memutuskan untuk TIDAK! Aku mau menyapih bayiku dengan cinta, tawa, keikhlasan, dan tanpa deraian air mata!

Dan itu tidak mudah!

Langkap pertama yang aku ambil adalah, BERDISKUSI dengan Sang Ayah (dan jika ada, dengan anggota keluarga lain yang serumah juga).
Aku bilang sama Ayah Zee, aku mau menyapih Zee dengan cinta, perlahan-lahan, smooth, dan diakhiri dengan keputusan Zee untuk tidak nenen lagi.

Awalnya Ayah Zee pesimis. “Mana ada bayi yang rela disapih? Udahlah, pake cara yang biasa aja!”

Cara yang “biasa”? Hehe… Nehi!!

Aku berjuang, bergerilya. Aku mengirim banyak sekali artikel tentang pentingnya Weaning With Love ke alamat surel Ayah Zee. Aku hubungi sahabatnya yang pro-ASI dan WWL, supaya ngajak Ayah Zee diskusi tentang pentingnya WWL. Aku lakukan sounding-sounding pribadi ke Zimam, di depan si Ayah, agak Ayah setuju dengan konsep WWL kita.

Akhirnya Ayah Zee melunak. Tidak lagi melarang atau menentang, namun mengambil sikap abstain. Awalnya aku takut. Takut kalo gagal, si Ayah akan menyalahkan aku. Tapi lama-lama aku berpikir, “Well, saat aku menerapkan konsep RUM pertama kali, Ayah juga menentang, tapi akhirnya mendukung, setelah aku buktikan efek baiknya.” Dan aku yakin, si Ayah juga akan bersikap demikian untuk Weaning with Love ini.

Langkah kedua adalah SOUNDING ke Zimam.
”Abang sudah besar, minumnya air putih pake gelas. Yang minum susu itu adek bayi.”

Sejak usia 18 bulan sampai usia 21 bulan, itulah sounding kami ke Zimam. Berawal dengan deal tidak nenen di muka umum karena malu, Abang sudah besar. Zimam setuju. Walau konsekuensinya, kita harus segera pulang jika Zimam mau nenen🙂

Lambat laun, Zimam mulai terbiasa, walau dia ingin nenen, kalau sedang ada di luar rumah, dia akan menahannya sampai kami tiba. Kami pun tak perlu buru-buru pulang ke rumah lagi.

Sejak usia 21 bulan, tepatnya sepulang dari mudik lebaran ke Bukittinggi, sounding untuk Zimam berubah, ada peningkatan: “Abang sudah besar, bentar lagi 2 tahun. Kalo sudah 2 tahun itu berarti nenennya berhenti, ya! Nanti, Abang ulang tahun ada balon, ada kue, ada kado. Tapi nenennya berhenti, ya!”

Awalnya Zimam menolak, protes. Tapi lama-lama mungkin karena di sekolahnya sering ada ulang tahun temannya, dia jadi antusias menyambut ulang tahunnya sendiri. Ada balon, ada kue, ada kado.

Tepat di ulang tahunnya yang kedua, kami pun benar-benar merayakannya, walau cuma bertiga. Ada balon, ada kue, ada kado. Perayaan ulang tahun Zimam mundur sehari, tanggal 31 Oktober. Malamnya dia masih minta nenen, besoknya juga (1 November).

Pada 1 November, saat Zimam minta nenen, aku tagih janjinya: “Katanya Abang mau berhenti nenen? Kan ulang tahunnya udah dirayakan, ada balon, ada kue, ada kado. Katanya mau berhenti nenen?”
Zimam memaksa nenen…
”Yasuda, malam ini boleh nenen, tapi besok nggak, ya!”

Sungguh, saat aku bilang gitu, aku gak tau bahwa ternyata malam itu adalah malam terakhir Zimam nenen ke aku! T_T

Aku berpikir, kalaupun besok Zimam minta nenen, ya aku kasih tapi aku tawar dulu, malam ini nggak, besok aja ya…

Tapi ternyata.. besoknya, besoknya, dan besoknya lagi, Zimam sendiri yang gak minta nenen. Dia gak minta ya aku gak nawarin!

Sakit sekaligus bangga liat bayi kecilku berusaha memenuhi janjinya. Walau aku tau persis, janji itu adalah trap yang dibuat orang tuanya untuk dia (hihihi…)

Alih-alih minta nenen, Zimam malah minta digosok punggungnya.. “gayuk pandung!” katanya..

Walaupun Zimam sudah tidak minta nenen lagi, aku gak serta-merta bilang: Zimam lulus WWL!! Tidak..
Sekarang, setelah 4 bulan berlalu, aku baru berani bilang bahwa ZIMAM LULUS DISAPIH DENGAN CINTA!!!! ^_^

Dan untuk semua ini, aku akan berterima kasih kepada mereka-mereka yang membantuku, mendukungku, membimbingku, menuntunku, memelukku, dan sebagainya. Mereka adalah:

Ayah Zulkifli Malin Sutan, partner terkompak sepanjang sejarah. Kita sering berselisih paham, namun, selalu berakhir dengan dukungan untukku. ^_^

Nini Sjari Juniarsih, yang terharu saat mendengar cerita bahwa Zee menyapih dirinya sendiri. Iri, ya, Bunda? ^_^

Milis Sehat, tempat pertama kali aku membaca istilah “Weaning with Love,” mempelajarinya, membanding-bandingkan dengan metode lain, dan memutuskan akan menggunakannya kelak.🙂

Milis Asiforbaby, tempat menguatkan diri saat proses WWL itu hampir tiba.

Grup Tambah ASI Tambah Cinta, sharing ilmu WWL dari para senior benar-benar menguatkan.

Grup AIMI ASI, cuma ada satu metode penyapihan di sini, penyapihan dengan cinta!!! ^_^

Alhamdulillah, proses menyapih dengan cinta ini tanpa disertai payudara bengkak, atau deraian air mata Zimam. Kenapa nggak dicoba? ^_^

sapih-zee

Weaning with LOVE

4 Balasan ke Perjuangan Memberikan yang Terbaik: Menyapih dengan Cinta

  1. shofi mengatakan:

    Wah salut buat bunda zimam, dulu terlintas dipikiran saya untuk tidak akan pernah menyapih Husna anak saya, krna saya tidak tega dengan proses penyapihan, saya berpikir pasti ada saatnya dia berhenti sendiri berapa pun umurnya. Setelah membaca tulisan bunda saya merasa tidak ada salahnya saya nanti mencoba menyapih dengan Cinta, dengan tanpa paksaan tentunya, anak senang saya pun tenang. Doakan ya bunda, semoga saya juga berhasil nantinya seperti bunda. Trims bunda buat inspirasinya..

  2. yuyun mengatakan:

    Wah kisahnya mharu biru…..
    Minta share nya dong. Aku mau pake wwl juga, anakku bulan juni usianya 2 thn. Udah mulai sounding ” kaka hebat udsh gede gak enen lg” .klo lg sadar kaka ngerti tp klo mau bobo sakau minta enen gak bisa dialihkan. Bisa minta sarannya?

  3. Yeptirani mengatakan:

    Mbak shofi n mbak yuyun..

    Semangat mbak,,. Pasti bisa pake WWL🙂

    Gausa pakai target ya… biar anaknyang memutuskan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: