January Full of Memory … (Part 2)

19 Februari 2018

Assalamualaikum…

Tulisan ini adalah bagian kedua dari judul yang sama beberapa waktu yang lalu. 🙂

Ceritanya, keluarga kami sudah punya rencana berkenaan dengan wisuda master Pak Suami. Wisuda master Pak Suami dijadwalkan diadakan pada bulan Januari 2018. Untuk itu aku sudah memesan gamis plus khimar cantik yang serasi dikenakan dengan jas “suit” wisuda Pak Suami.

Namun, karena ternyata tanggal penyelenggaraan wisuda mepet banget dengan HPL Baby K, Pak Suami memutuskan aku tidak ikut. Jadi yang akan pergi ke Jogja untuk menghadiri wisuda beliau adalah mama mertua, papa mertua, dan Abang Zimam. Karena kan seharusnya aku tuh tanggal segitu kalo gak lagi hamil dan nunggu lahiran, ya lagi jaga bayi baru lahir yang gak mungkin dibawa ke mana-mana dulu.

Rencananya, Pak Suami akan berangkat hari Senin, 22 Januari, jam 7 malam, karena ada jadwal acara yang harus dia datangi di hari Selasa pagi. Mama, papa, dan Zimam akan menyusul berangkat hari Selasa siang. Lalu mereka menghadiri wisuda di Rabu pagi, kemudian kembali ke Jakarta pada Rabu malam. Sedang Pak Suami kembali Kamis siang karena paginya harus mengembalikan toga wisuda lebih dulu.

Tapi ternyata kan Allah swt punya rencana lain. Keita dipilihkan penjaga yang terbaik sehingga aku gak perlu lagi menjaga Keita di dunia.

Malam setelah kami mengantar Keita kembali ke pangkuan Ilahi, aku berkata pada Pak Suami (kalau gak mau dibilang: memelas :p), “Ay, kalau gitu Danda ikut lah ya ke Jogja. Sama siapa Danda di rumah kalo gak ikut?”

Itu sebenarnya adalah “Ucapan Patah Hati”, karena sebenarnya ada saja orang di rumah. Di hari-hari biasa juga aku sering kok sendirian di rumah hehe.

Dan setelah kami berpamitan dengan Keita dan kembali ke kamar perawatan, Pak Suami langsung membelikan tiket pesawat untukku, dengan jadwal yang sama dengan Zimam.

Hari Senin kami habiskan dengan menerima tamu. Ada banyak sekali tamu yang datang. Kepada mereka kami juga berpamitan bahwa besok kami akan berangkat ke Jogja. Perjalanan “patah hati” yang dibalut menghadiri wisuda master. 🙂

Dipikir-pikir, Keita benar-benar anak baik. Dia lahir dan pergi di saat yang tepat. Andai dia meninggal di hari Senin siang, saja. Semua rencana akan kacau. Mana bisa ayahnya berangkat ke Jogja meninggalkan hal yang belum selesai? Atau misal meninggal malam Selasa? atau hari Selasa? Gak kebayang seperti apa perasaan Ayahnya di jogja. Saat Kei di NICU saja, Pak Suami sempat ingin membatalkan keberangkatan ke jogja. Gak ikut wisuda gak papa yang penting sudah terdaftar. Hanya aku melarang, selain ini adalah puncak pencapaiannya setelah dua tahun berjuang, wisuda ini juga merupakan wisuda pertama yang didatangi Mama. Pak Suami khawatir, bila aku harus bolak-balik mengurus Kei di NICU.

Ternyata Keita dibimbing Allah untuk mendukung rencana ayahnya. Benar-benar anak yang baik ^_^ Bagaimana kami tidak merindukanmu, Nak! 🙂

Pak Suami pun berangkat ke Jogja hari Senin malam. sementara kami di rumah masih saja menerima tamu sampai jam 10 malam. Benar-benar terharu.

Besoknya, jam 10 pagi kami bersiap ke bandara Halim untuk menyusul ayahnya Keita ke Jogja. Dan di ruang tunggu bandara, kami merasakan hal itu. GEMPA.

Selain itu, penerbangan kami juga ditunda selama 90 menit. Iya, 90 menit, bukan 19 menit, ya. Katanya cuaca di Jogja tidak bagus. Dan memang sih, di pesawat terjadi guncangan. Aku kan gak tidur seharian di hari Minggu sampai Senin. nah begitu sampai di kursi pesawat, aku langsung tertidur sampai- sampai gak ngeh sama Peragaan Posedur Keselamatan Penumpang. Aku dibangunkan oleh turbulance.

Sesampainya di Bandara Adi Sutjipto ternyata memang hujan deras. Pak Suami sudah menjemput kami di bandara, dan kami pun jalan-jalan.

Hari Rabu adalah hari-H buat Pak Suami. Usahanya selama 2 tahun membuahkan hasil. Dia pun diwisuda dengan gelar MBA, master of bussiness administration.

Oya, atas saran tamu-tamu yang datang ke rumah untuk melayat, kami memperpanjang keberadaan kami di Jogja. Yang tadinya hanya sampai Rabu malam, menjadi Jumat Malam. AKhirnya kami pun bis jalan-jalan keliling Jogja, ke The World Landmark Merapi Park, ke Monjali, ke Keraton, dan Masjid Kauman. Rencana ke Prambanan batal karena hujan, akhirnya mampir sebentar di Candi Kalasan.

Ada satu hal istimewa yang terjadi di akhir bulan Januari. Ulang Tahun Pernikahan kami yang ke 9. Yaitu tanggal 25 Januari 2018. Yang akhirnya kami rayakan bersama orang tua. Menyenangkan sekali.

Hari Jumat malam kami pun kembali ke Jakarta. Di Jakarta sudah ada ibuku, iya, ibuku. Beliau memutuskan untuk berangkat ke Jakarta, karena juga merasa patah hati ditinggal cucu baru yang belu sempat beliau lihat.

Hari Sabtu pagi, kami sarapan bersama.

Terakhir kalinya orang tuaku dan orang tua suami bertemu itu adalah 9 tahun yang lalu saat Baralek kami di Bukittinggi. Dan saat itu kami berkumpul lagi tanpa direncanakan. Karena sebenarnya ibuku tidak ada rencana ke Jakarta untuk menemaniku melahirkan.

Sekali lagi, Keita membuat keajaiban. Dia membuat seluruh keluargaku berkumpul. Dia juga akhirnya membuat Abangnya bahagia karena rumah kami ramai.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah 94:5)

Aku benar-benar membuktikan hal ini. Januari 2018 bagiku seperti roller coaster. Hampir setiap hari terjadi momen tak terlupakan. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan bulan ini?

Yeptirani Syari

Iklan

VBAC–Vaginal Birth after Cesarean

2 Februari 2018

Apa itu VBAC?

Dalam bahasa Indonesia, VBAC adalah Pesalinan normal setelah sebelumnya sesar. Vaginal Birth after Cesarean.

Halo semuanya, ijinkan aku membagi tentang pengalaman VBAC-ku. well, ya, walaupun Baby K sudah di surga sekarang, tapi proses melahirkan Baby K secara VBAC masih sangat berkesan buatku. Lagian, Baby K insyaAllah sudah ada yang jaga, kan? Aku bisa tenang ^_^

Kisah ini dimulai ketika aku baru saja melahirkan #AbangZimam dengan proses sesar. Dari milis sehat, aku menemukan kata VBAC, yang artinya Vaginal Birth after Cesarean, alias Persalinan Normal Pascasesar. Jalan-jalan di internet, facebook, kenalan dengan grup GBUS (Gentle Birth untuk Semua), makin mengenalkan aku dengan “bisanya seorang perempuan melakukan vbac”.

Sejak saat itu, aku mantab, persalinan berikutnya aku mau vbac jika memungkinkan.

Awalnya aku ingin memberi adik buat Abang Zimam di usianya yang ketiga, ternyata Allah SWT berencana lain. Aku baru hamil ketika Abang Zimam berusia 5 tahun (tahun 2016). Dan itu pun gugur dalam masa biokimia (liat postinganku di Biochemical Pregnancy, deh ^_^).

Dan ketika pada tahun 2017 aku kembali dipercaya untuk hamil Baby K, dan saat di-USG Baby Kei sudah terdengar detak jantungnya, bahkan ketika masih di meja periksa, aku sudah bilang sama obgynku, “Dok, saya pengen vbac.”

Dan jawaban dokter itulah yang membuat aku betah periksa terus dengannya sampai kelahiran Baby K. “Oh, bisa! Kenapa nggak?”

Dia adalah dr. Sitti Fausihar Sp.OG di Rumah Sakit Hermina Jatinegara.

Bertemu dengan dokter Sitti bisa dibilang takdir dari Allah. Tahun 2015, aku merasa bekas sesarku perih, aku ajak suami ke obgyn di Hermina. Aku asal tunjuk obgyn, cari obgyn perempuan yang paling sedikit antreannya saat itu hehe. Dialah dokter Sitti. Siapa sangka, tahun 2017 dokter Sitti menjadi obgyn yang panjang antreannya hahaha…

Tahun 2017 ketika aku positif hamil dan merasa punya masalah dengan asam lambung, aku berkonsultasi via whatsapp dengan adik kelasku yang obgyn. Dia merekomendasikan dokter Sitti (bila aku memang ingin konsultasi di RS Hermina Jatinegara). Rupanya dokter ini teman adikku itu (belakangan baru aku tahu, kalo dokter Sitti juga adik kelas dari abang kelasku tempat aku konsultasi via telepon juga. what a small world! ^_^).

Periksa ke dokter Sitti ini enak. Karena dia malah nyuruh aku ke puskesmas untuk minta vitamin dan cek darah. Dari dokter Sitti pula aku tau bahwa Faskes BPJS Tingkat I untuk ibu hamil, yang paling bagus adalah PUSKESMAS. Karena itu aku patuhi sarannya, dan aku pindahkan faskes BPJS-ku ke Puskesmas Kec. Kramatjati.

Ternyata dia benar. Aku di-treatment benar-benar sesuai guideline dari Pemerintah. Dikasih buku pink, cek darah HIV dan Hepatitis gratis, vitamin-vitamin gratis tiap bulan, serta nasihat-nasihat untuk ibu hamil lainnya. Cuma memang aku harus sabar karena antreannya panjang hehehe. Aku memilih periksa tiap hari Jumat karena antreannya paling sedikit timbang hari lainnya. Oya, jadwal periksa Poli KIA untuk ibu hamil adalah tiap hari Senin, Rabu, dan Jumat, pukul 08.00 – 11.00 WIB.

Agar aku berhasil vbac, ada beberapa hal yang harus aku patuhi. Aku harus menjaga pola makan, agar berat badan janin (BBJ) tidak lebih dari 3kg (karena postur tubuhku dokter mengijinkan BBJ-ku lebih besar dikit daari 3kg, asalkan jangan sampai 3,5kg). Usia kandunganku saat melahirkan tidak boleh lebih dari 40minggu, ketuban cukup, plasenta sehat dan letaknya tidak menutup jalan lahir, tidak ada lilitan tali pusar, serta dinding rahimku tebal.

Pola makanku pun diatur. Karbohidratku diganti dengan nasi merah, dan aku diharuskan makan lebih banyak daging (hiks, aku gak terlalu suka daging-dagingan sebenarnya). Tapi, demi bisa vbac, aku jalani semua itu. Sampai-sampai beli 1 lagi rice cooker untuk memasak nasi merah Smile

Hari berlalu, bulan pun berlalu. Periksa rutin tiap bulan tidak pernah aku lewati. USG rutin juga untuk memantau BBJ, letak plasenta, tali pusar, dan jumlah air ketuban.

Oya, statusku saat hamil Baby K adalah G3P1A1, kehamilan ketiga, sudah pernah melahirkan 1 kali, dan keguguran 1 kali.

Untuk vbac, bukan hanya tubuhku dan janin yang dipersiapkan. Dana juga. Karenanya aku mencari tahu, apakah vbac dicover BPJS? ternyata tidak. Hanya sc terencana yang dicover BPJS di RS Hermina. Aku pun hunting rumah sakit lain, siapa tau ada yang vbac-nya dicover BPJS, mengingat saat vbac, aku ada kemungkinan harus disesar in cito.

Rumah sakit yang paling dekat dengan rumahku selain Hermina adalah RS Budhi Asih. Aku pun mengajak suami periksa di sana. Ternyata dokter yang aku datangi tidak bersedia melakukan VBAC karena posisi tempat tinggalnya yang jauh dari RS sehingga tidak memungkinkan untuknya datang tepat waktu apabila aku harus sesar in cito.

Baiklah, artinya opsi satu-satunya hanyalah Hermina Jatinegara. Kamipun mencari tahu berapa besar biaya yang harus kami siapkan bila ingin VBAC di sana.

Untuk persalinan normal kelas melati (paling rendah), berkisar antara 7-11 juta. dan untuk Sesar kelas melati berkisar antara 22-25juta. Maka segitulah dana yang akhirnya kami siapkan untuk bisa VBAC.

Selain itu, karena ada klausul melahirkan tidak boleh lebih dari 40 minggu, sedang pengalaman Abang Zimam, kontraksi pertamaku baru terjadi tepat di 40 minggu dan bukaannya sangat lambat, aku pun mencari tempat berlatih yoga prenatal, siapa tau bisa membantu mempercepat kontraksi. Ke sana ke mari aku mencari tempat prenatal gentle yoga terdekat dengan rumahku. Tapi belum juga ada yang pas.

Suatu hari, Abang Zimam mengeluh giginya goyang, aku pun berinisiatif membawanya ke dokter gigi. Tapi ternyata, dokter gigi BPJS Zimam waktu praktiknya gak pas dengan jadwal sekolah dan kursusnya. Aku pun mencari dokter gigi BPJS yang jadwal praktiknya pas. Dan aku menemukan Klinik Hygea. Aku pun memindahkan faskes tingkat 1 Abang Zimam ke Kllinik Hygea. Faskes tersebut berlaku tanggal 1 November 2017.

Ketika aku mendaftarkan Zimam untuk periksa gigi di Klinik Hygea, aku menemukan banner iklan Prenatal Gentle Yoga squad #bidanamel di sana. Wow. Ini yang aku cari! Segera aku minta kontak ke resepsionis dan mereka memberikan kontak Bidan Nurul sebagai instruktur yoga di Hygea.

Malamnya aku langsung mengontak bidan Nurul lewat whatsApp, dan hari Minggunya, di usia kandungan 28minggu, aku mulai berlatih Prenatal Gentle Yoga.

Saat berlatih yoga itu, aku banyak sekali menemukan hal yang baru. Teori kontraksi, teori mengejan, teori mempercepat turunnya kepala bayi ke panggul. Aku mendapatkan ilmu bahwa Gymball dapat membantu mempercepat bayi masuk panggul. Aku juga mendapatkan banyak teman baru di sana.

Atas rekomendasi Bidan Nurul, pada usia kandungan 32 minggu aku membeli Gym Ball. dan mulai berlatih pelvic rocking.

Jujur saja, aku baru 2 kali berlatih senam hamil karena waktu latihannya kurasa tidak pas dengan jadwal ngantorku.

Setelah berlatih yoga secara rutin, berenang,  periksa ke obgyn dan puskesmas dengan rutin juga, pada usia kandungan 37 minggu, tepatnya 11 Januari 2018 aku mulai merasakan gelombang cinta pertama. Alhamdulillah. Suamiku membantu dengan melakukan pijat perineum. Aduhai rasanya menyenangkan. Pijat perineum hanya bisa dilakukan setelah usia kandungan 36 minggu ya, karena bisa memicu kontraksi.

Oya, di usia kandungan 34 minggu, dokter sudah memeriksa dinding rahimku dan hasilnya adalah 4,3cm, katanya seperti dinding rahim orang yang belum pernah sesar. Alhamdulillah.

Sayangnya, Pak Suami hanya berkesempatan 1 kali saja melakukan pijat perineum, karena aku keburu mengalami kontraksi yang membuatku tidak nyaman memosisikan diri untuk dipijat perineumnya.

Setelah mengalami kontraksi pertama, aku makin sering berlatih pelvic rocking di atas gym ball. Sambil nonton drama korea. Lumayan loh 1 jam lebih kalo latihannya sambil nonton 1 episode drama korea ^_^

Di usia kandungan 38 minggu, aku periksa dan sudah bukaan 1. Alhamdulillah. Ada kemungkinan aku bisa melahirkan dengan vbac karena bukaan jauh sebelum 40 minggu.

Esokya dan esoknya dan esoknya lagi, kontraksiku makin nambah. Selasa 16 Januari, aku periksa lagi, dan masih bukaan 1. Aku bercerita ke teman-teman yoga, dan dikenalkan dengan doula yang bisa melakukan akupresure, kami berjanji bertemu hari Jumat. Kabarnya akupresurenya bisa nambah bukaan.

Tapi, hari Kamis 18 Januari, aku merasa kontraksiku makin kuat. Sudah sejak Rabu sebenarnya, tapi karena aku “calm” di pagi hari, aku selalu gak jadi ngajak suami ke rumah sakit. Setiap malam, aku hampir tidak bisa tidur. Bahkan beberapa kali aku menyerah minta disesar saja karena gak tahan akan nyerinya kontraksi. Tapi suamiku tetap menguatkanku untuk tetap di niat awal, vbac. Satu-satunya posisi tidur yang bisa aku lakukan adalah duduk. 6 buah bantal aku susun, sampai-sampai pantatku nyeri sekali karena aku selalu dalam posisi duduk.

Akhirnya Jumat 19 Januari, aku minta suamiku mengantarku ke rumah sakit. Di sana, aku janjian dengan doulaku untuk pijat akupresure.

Begitu sampai di rumah sakit, aku langsung disuruh ganti baju (kalau gak mau bilang dipaksa, ya, hehe), karena kontraksiku yang sangat kuat, walaupun bukaan masih saja 1. Doulaku datang dan memijatku, bukaan langsung naik ke 3.

Doula datang dengan perjanjian untuk pijat akupresure saja. Dia bertanya apa aku sudah punya pendamping persalinan? aku jawab belum. Aku juga balik bertanya apa dia bisa jadi pendamping persalinanku? Dia jawab: kamu yakin?

Merasa aku tak punya pilihan lain, dan merasa bahwa suamiku tidak sepintar itu untuk jadi pendamping persalinanku, aku meminta doula tersebut untuk jadi pendampingku, s&k terserah dia. Dia pun setuju. Dia seperti malaikat yang dikirim Allah padaku di saat-saat genting. Dia membimbingku agar mengubah persepsi nyeri menjadi gelombang cinta. Mengajari cara bernafas yang fun saat kontraksi datang. Dan mengajariku gerakan-gerakan yang membuat Baby K makin cepat turun ke panggul.

Sampai malam, bukaan masih 3,5. Belum juga 4. Aku tidak bisa tidur karena kontraksiku sangat kuat. Suamiku yang menemaniku sudah tepar kelelahan. Kubiarkan saja dia tidur. Kasihan. Malam itu suster datang memberiku obat anal untuk mengurangi kontraksi. Akupun bisa tidur selama 2 jam (walau terbangun di antaranya), dan merasa lebih segar pada jam 4 pagi. Bukaan naik menjadi 4.

Suster menyuruhku mandi, bajuku kotor sekali oleh lendir. Setelah segar, aku mulai berlatih lagi. Jam 11 pagi, pada bukaan 5, obgyn datang dan memecahkan ketubanku. Entah apa yang terpikir olehnya, mungkin sudah feeling dia sebagai dokter melihat lendir, kontraksi, dan bukaanku. Ternyata air ketubanku sudah berwarna ijo (kata suamiku teksturnya seperti kuah kacang ijo, aku gak lihat sendiri), akhirnya dokter memutuskan memberikan induksi buatku, mungkin dia juga mempertimbangkan ketebalan dinding rahimku juga kali ya makanya berani ngasih induksi.

Spontan saja nyeri kontraksiku makin bertambah. Dengan ajaran nafas “hi-hi-hoo” ajaran doula, dan pijatan suami di daerah punggung dan pantat, aku berhasil melaluinya. Bukaan 6, 7, 8, dan akupun disuruh mengedan.

Tepat pukul 12 siang dokter datang untuk membantuku mengejan. Sekali, dua kali. Semua ilmu dan teori mengedan yang diajarkan di senam hamil maupun yoga, buyar! Aku gak berhasil mengedan dengan baik T_T

15 menit berlalu, dokter memutuskan membantu persalinanku dengan forsep. Dengan aba-aba dokter, aku mengedan 1 kali, dan pukul 12.28 WIB tanggal 20 Januari 2018, Baby K pun lahir.

Fiuh!

Aku skip cerita tentang jahitan akibat forsep, ya. 15 cm di dalam, dan seluruh perineum di luar. Aku juga akan skip cerita tentang baby K karena sudah aku bahas di postingan sebelumnya ^_^

Memang aku akui, vbac-ku ini tidak termasuk gentle birth. Mana ada gentle birth tapi diperiksa dalam tiap jam, diinduksi, diforsep? Itu mah penuh trauma. Belum lagi aku seperti mimpi menjalani proses melahirkan ini, karena perintah suster datang bertubi-tubi tanpa aku tahu mana yang lebih dulu harus dipatuhi. Yang disuruh makan, yang disuruh miring kiri, yang disuruh mengedan.

Tapi aku tetap bersyukur, bisa merasakan melahirkan dengan proses pervaginam.

Dan satu lagi doaku terkabul. Dulu aku pernah berdoa, agar bisa melahirkan dalam pelukan suami. Dan itulah yang aku alami saat melahirkan Baby K.

Padahal awalnya, aku memutuskan doula lah yang mendampingi aku melahirkan. Ternyata dia terlambat datang hihihi. Dia datang saat aku bukaan 7 apa 8 gitu, dan sudah nyaman di pelukan Pak Suami. Jadinya aku bilang suamiku saja yang mendampingiku. Bukan doula.

Benar-benar suatu prosesi melahirkan yang walaupun melelahkan nan membingungkan, tapi tetap mengesankan. Andai diijinkan, aku ingin merasakan lagi proses melahirkan yang seperti ini (kalau bisa yang lebih mudah dari ini, ya). Hubunganku dengan suami terasa benar begitu dekat saat itu. Terasa sekali aku dan dia itu jadi satu kala itu (terakhir aku merasakan hal ini yaitu saat akan masuk ruang operasi untuk melahirkan Abang Zimam). Yah, cerita-cerita di drama korea atau di lirik lagu cinta itu benar adanya, loh! Hehehe…

Setelah proses melahirkan selesai, bayiku dirawat, suamiku mengurus bayiku, aku selesai dijahit, yang aku rasakan adalah LEMAS.

Ternyata benar, melahirkan menguras energi. Apalagi dari kemarin hanya 1 atau 2 suap makanan yang masuk ke perutku. Selera makanku hilang karena aku berkutat dengan kontraksi. Lain kali aku sedia makanan cair saja lah. biar tetap ada energi sebelum melahirkan. catat ya! makanan cair!

Aku benar-benar tergeletak lemas di kasur VK. Bahkan ketika petugas meminta cap jempolku (untuk disandingkan dengan cap kaki Baby K), aku minta dia mengangkatkan tanganku hahaha.

Setelah sekitar 1 jam berbaring, Aku mulai merasakan diriku kembali. Dan tahu, gak? ternyata makanan rumah sakit itu ENAK loh! wkwkwk… Yup, setelah aku gak ngalamin kontaksi, selera makan pun kembali.

Dibilang penuh trauma, iya. Dibilang lebih enak disesar, benar. Tapi jujur, aku tidak kapok melahirkan dengan normal. Walau dengan anatomi tubuhku, aku tidak yakin dokter akan mengijinkanku melahirkan pervaginam lagi ^_^

Jadi, apakah seorang perempuan bisa melahirkan secara normal setelah sebelumnya sesar? Jika syarat dan ketentuan terpenuhi, BISA.

Tapi, lakukan di rumah sakit atau kllinik yang bisa sesar in cito, ya! Artinya, sesar dadakan. Karena vbac itu tetap ada risiko ruptur uteri (sobek dinding rahim), dan apabila terjadi ruptur uteri, dalam 15 menit harus dilakukan operasi sesar agar nyawa ibu dan bayi bisa selamat.

Allah SWT telah menganugerahi manusia dengan ilmu. Yuk pergunakan sebaik mungkin. Berdayakan diri kita ya.

Yeptirani Syari

PS: Pas melahirkan, usahakan tidak teriak. Ngabisin energi soalnya. Aku yang gak teriak aja, habis lahiran lemes tak terkira, gak kebayang lemasnya yang teriak-teriak, ya? 🙂


January Full of Memory … (Part 1)

1 Februari 2018

WhatsApp Image 2018-02-03 at 12.20.54

Januari 2018 merupakan bulan penuh kenangan buatku. Aku ragu apa aku bisa melupakan bulan ini.

Sejak awal Januari, aku menantikan kelahiran Baby K. Kami mulai membuka lagi kamus bahasa Sanskerta dan mencari nama yang bagus untuk Baby K. Dia sudah punya nama depan, dan nama belakang, tapi belum punya nama tengah. Sesuai kesepakatan, nama tengah anak-anak laki-laki Zulkifli diambil dari bahasa Sanskerta.

Tanggal 11 Januari 2018, yang terkenal karena lagu Gigi itu, aku mulai merasakan konstraksi yang konsisten setiap setengah jam dengan durasi sekitar 30 detik.

2018-03-02-15-16-23

Hari Sabtu-nya, aku dan Pak Suami beserta Abang Zimam berangkat untuk periksa ke obgyn. Ternyata sudah bukaan 1. Tapi aduhai boooo kontraksinya.

Untungnya, aku sudah beberapa kali berlatih prenatal gentle yoga dan teknik pernafasannya sangat membantu dalam mengatasi kontraksiku.

Tanggal 15 Januari 2018, hari Senin, adalah hari terakhir aku bekerja. Malam sebelumnya aku tidak bisa tidur karena kontraksi yang aku rasakan makin kuat. Akhirnya aku lemas di kantor. Memang, Baby K “bergerak” di malam hari, kontraksi malam lebih kuat daripada kontraksi siang, karena itu aku hanya bisa tidur di siang hari karena malam harinya aku selalu terbangun karena kontraksi.

Esoknya, hari Selasa, 16 Januari 2018, di malam hari sepulang Pak Suami dari kantor, kami mengunjungi RS Hermia untuk periksa. Kontraksi makin kuat. Ternyata masih bukaan 1 saja. PIhak rumah sakit menyarankan agar aku menginap, tapi aku mau pulang. Entah, aku serasa punya feeling harus pulang. Akhirnya aku diijinkan pulang dengan oleh-oleh nasihat, kalau kontraksi nambah, atau bekas sesar nyeri, atau keluar air atau keluar lendir, segera ke rumah sakit.

2018-03-02-15-22-13

Tepat seminggu sejak kontraksi pertama datang. Bukaan masih saja bukaan 1 sedang kontraksi intensitas maupun durasinya makin sering dan lama. Dari seorang teman yoga, aku mendapatkan kontak seorang doula yang juga praktisi akupresure, yang bisa melakukan akupresur untukku dan membantu nambah bukaan. Aku hubungi dia, namanya Mbak Felicia Pukiat, dan kami pun janjian bertemu hari Jumat.

Kamis, 18 Januari 2018, kontraksiku makin nambah, sampai-sampai aku hampir menangis, lupa semua ajaran nafas dari prenatal gentle yoga, yang ada hanya rasa nyeri di sekujur tubuh bagian bawah, terutama sebelah kemaluan dan anus. Namun seorang teman yang juga obgyn mengingatkanku bahwa kontraksinya orang VBAC memang lebih nyeri ketimbang kontraksinya yang belum pernah SC. Well, noted then.

2018-03-02-15-19-27

Akhirnya karena aku merasa tidak kuat, aku ajak suamiku untuk mengantarku ke rumah sakit esoknya. Janjian dengan Mbak Felicia aku pindahkan ke rumah sakit karena aku memang mau periksa.

Jumat, 19 Januari 2018. Dengan sisa tenaga aku turun dari motor di depan UGD Hermina Jatinegara. Pak Suami memarkir motor, (rencananya) aku mendaftar ke resepsionis UGD.

Ternyata kontraksi datang sesaat aku duduk di depan resepsionis. Segera saja dia memanggil security dan membawa kursi roda agar aku bisa dibawa ke ruang VK. Dan ternyata, karena melihat kontraksiku yang hebat, walaupun diperiksa masih saja bukaan 1, aku disuruh (kalau gak mau bilang dipaksa) menginap.

Doulaku datang dan memijatku, bukaan langsung nambah jadi bukaan 3, wow. Gimana aku gak merekomendasikan akupresure? 🙂

Setelah semalaman berkutat dengan rasa nyeri kontraksi, berdamai (dengan bantuan doula) dengan rasa nyeri itu, dan akhirnya benar-benar berhasil menjadikan nyeri kontraksi sebagai gelombang cinta (sebelumnya aku heran, kok bisa nyeri kontraksi dibilang gelombang cinta, ini nyeri!!!!), Sabtu, 20 Januari 2018, pukul 12.28 siang, aku melahirkan Baby K dengan proses VBAC. SUKSES!!!!!

2018-03-02-15-25-45

Namun, Kei lahir dengan tubuh biru dan tangisan tertahan seperti sesenggukan. Siapa sangka, tangisan sesenggukan itu adalah suara terakhir Kei yang aku dengar.

Kei hanya sebentar ditaruh di perutkku, dia kemudian diambil dan dirawat oleh suster dan dokter anak. Sementara aku? Dijahit!

Aku pun dipindahkan ke ruang perawatan umum, Kei dipindahkan ke NICU. Kisah tentang Baby K pun dimulai.

Karena lahir dengan kelainan, ketuban hijau keruh seperti kuah kacang ijo (kata Pak Suami, aku gak lihat sendiri), badan kebiruan (walau kemudian memerah), nafas tersengal, nangis sesenggukan dan tidak teriak, segala macam pemeriksaan dilakukan terhadap Kei. Jantung, otak, paru-paru. Dan terlihat bahwa paru-parunya kotor, obgynku curiga Kei kena pneumonia, dia bertanya apakah suamiku merokok, atau aku berada di lingkungan perokok. Aku pun teringat akan satu tempat di kantor yang sering aku pakai untuk tidur siang, di mana di sana sering tercium bau rokok. Well, aku tak tahu lah.

Baby K dirawat dengan status saturasi oksigen hanya 70%, dia pun bernafas dengan dibantu ventilator. Namun, ventilator di Hermina Jatinegara kurang (apaaa gitu) sehingga tidak bisa sempurna menyemprotkan oksigen ke paru-paru Kei. Mereka butuh suatu alat bernama HFO (High Frequency Oscillation), yang bisa menyemprotkan oksigen dengan lebih halus dan lebih kuat untuk Kei. Biasanya, mereka menyewa dari beberapa rumah sakit mitra. Namun, saat Kei memerlukan alat itu, semua alatnya sedang dipakai. Opsi berikutnya adalah merujuk Kei ke rumah sakit dengan fasilitas HFO. Semalam suntuk Pak Suami beserta staf NICU di Hermina mencari RS dengan HFO itu. Yah, mungkin bukan rejeki kami, sampai dengan tengah malam mencari, tak satu pun RS yang kami hubungi available untuk menjadi rujuak Kei. Dan sejak malam itu kondisi Kei terus menurun.

36 jam Kei bertahan dengan saturasi 70% aja, artinya paru-paru kecilnya hanya bisa menyerap 70% oksigen saja, dan itu harus dibagi ke jantung dan otak. Akhirnya pada Minggu malam Senin, jam 00.28 tengah malam, kami, aku dan suamiku mengantar Kei pergi kembali ke pangkuan Ilahi dengan kondisi saturasi akhir oksigen yang mampu diserapnya adalah 34%

2018-03-02-15-26-38

Posisiku saat itu masih di rumah sakit, dan akan pulang hari Senin, rencananya Kei memang akan ditinggal di NICU (bila dia bertahan). Oya, boleh aku bercerita satu hal sedih? Apabila Kei bertahan sampai Senin pagi, ada HFO yang kemungkinan free dan bisa dipakai loh. Tapi ya, dia pergi duluan.

Satu hal yang membuat aku bersyukur adalah, kepergian Kei sama sekali tidak memberatkan orang tuanya.

Setelah Kei pergi tengah malam itu, kami berdua tidak bisa tidur. Aku minta suamiku pulang untuk melakukan hal terberat dari semua kisah ini, memberitahukan kabar ini kepada seluruh keluarga. Jujur saja, hal yang paling berat setelah melepas kepergian orang yang kita cintai itu adalah MENGABARKAN HAL INI KEPADA ORANG-ORANG YANG KITA CINTAI LAINNYA.

Dan aku minta ijin untuk menangis sepuasku di kamar perawatan sendirian.

Pagi hari datang, ternyata adik sepupuku, dan sahabatku sudah ada di rumah sakit, untuk menjemputku dan Baby K, bahkan sebelum Pak Suami tiba.

Sekitar jam 10 pagi, aku pulang membawa jenazah Baby K. Ternyata di rumah, sudah dipasangi terpal, kafan dan pemandi jenazah sudah siap, liang kubur sudah digali, nisan sudah dibuatkan. Betapa aku sangat terharu akan kesigapan para tetanggaku ini. Sebelumnya aku juga dibuat terharu akan kesigapan teman-teman alumni angkatan 9 Taruna Nusantara yang ikut memantau perkembangan Kei dan aktif mencari informasi atas ketersediaan HFO di rumah sakit lain yang bisa disewa.

Akhirnya, Baby Kei sudah selesai dimandikan, dikafani, dan siap dibawa ke musholla untuk disholatkan pada pukul 11.30WIB. Saat adzan zhuhur tiba, Baby K dibawa ke musholla. Sesaat setelah sholat zhuhur, dia disholatkan kemudian dimakamkan. Sebuah prosesi pemakaman sederhana yang dihadiri lebih banyak orang dari yang aku pikir sebelumnya. Ayahnya lah yang menguburkannya, mengadzankannya sekali lagi, dan menutup liang lahatnya.

DSC_0768

Ternyata kami punya banyaaaaaakkkkk sekali orang yang sayang pada kami. Terbukti hari itu dari pagi sampai malam banyak sekali orang yang datang berkunjung. Bahkan ada karangan bunga dari kantorku.

WhatsApp Image 2018-02-03 at 16.14.24

Yang di atas ini diklaim jadi milik Abang Zimam dan hanya boleh dibongkar atas ijinnya Hehe..

Baby K ternyata sesuai dengan namanya. Aku menamakannya K dari kata KADO, karena dia memang kado buat kami. Tapi kami ingin memanggilkan Kei, maka kucari di kamus bahasa Jepang, dan menemukan kata Kei(hin) yang artinya Hadiah, aku kombinasikan dengan kata Ta (dari Ta-nya NobiTa), yang artinya besar. Keita, hadiah besar. Alkeita, sebuah hadiah besar.

Ayahnya memberi nama Wiradharma. Wira adalah panglima atau pejuang, dharma adalah berwelas asih. Wiradharma artinya pejuang yang berwelas asih. Zulkifli, diambil dari nama ayahnya, adalah nama Nabi yang sanggup diberi tanggung jawab dan suka beribadah. Dan Keita, walau usianya hanya 36 jam, benar-benar sebuah kado besar, pejuang tangguh yang welas asih dan sanggup diberi tanggung jawab. Karena proses dia di dalam perut, melahirkan dia, merawat dia walau singkat, sampai melepas kepergiannya, memberikan sesuatu yang baru bagi hubunganku dengan suami.

Tidak hanya itu, nama Keita ternyata memberikan kado besar lain yang tidak kami sadari. Karena menurut keyakinanku, bahwa semua bayi lahir dalam keadaan suci dan ketika dia kembali ke Sang Pencipta maka dia kembali dalam keadaan suci dan masuk surga. Menurut para pemuka agama kami, bayi yang meninggal itu akan jadi “tabungan” orang tuanya di hari akhir kelak. Benar-benar kado besar, kan?

Apakah Januari 2018 berakhir di sini? No! Ada hal lain yang terjadi sampai penghujung Januari. Tapi aku akan menuliskannya lain kali, di Bagian 2. Karena bagian ini kurasa terlalu panjang ^_^

InsyaAllah, sampai ketemu di bagian 2, ya.
Yeptirani Syari.


Go To Surabaya ~

11 November 2017

Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng.

Hari ini, kami sekeluarga berangkat ke Surabaya untuk lanjut ke Bangkalan. Besok, 12 November 2017, Bibinya #AbangZimam insyaAllah akan dilamar pria dari Jakarta hehe.

Gak nyangka sih, adik kecilku sekarang sudah besar. Sudah mau jadi istri orang.

Mohon doa restu semoga acara lancar, dan niat baik mereka dimudahkan sampai ke jenjang pernikahan. Aamiin…
Jakarta, 11 November 2017

Yeptirani


Mitoni, Tujuh Bulanan?

8 November 2017

Minggu ini Baby K sudah mau 29 minggu usianya. Yup, panggilannya adalah K. Bacanya Kkhei, ya! Kayak orang bule bilang huruf K ^_^

Kalau orang-orang ngerayain upacara tujuh bulanan, aku gak pernah ngerayain kayak gituan. Baik 4 bulan, 7 bulan, baby shower, dan lain-lain. Mending duitnya ditabung buat lahiran. Soalnya lahiran Baby K ini kemungkinan akan mahal, karena harus di rumah sakit yang gak dicover BPJS. Mana rumah sakitnya gak bisa sembarangan karena aku ingin melahirkan Baby K dengan VBAC (Vaginal Birth after Caesarean).

Alias, melahirkan normal pascasesar.

InsyaAllah gapapa kok, aku yakin. ^_^

2018-02-02-19-53-22


Biochemical Pregnancy (Kehamilan Biokimia)

24 Juni 2017

Kali ini aku ingin membahas tentang Biochemical Pregnancy alias Kehamilan Biokimia.

Awalnya bermula ketika pada bulan Maret 2016 aku terlambat haid, di-testpack garis dua, diperiksa di Rumah Sakit juga positif hamil, namun ketika di-USG, kantong rahim tak terlihat. Namun, 15 hari kemudian aku haid, dan dinyatakan negatif hamil oleh dokter. Tapi karena aku sudah periksa di Rumah Sakit maka aku dianggap keguguran, dan statusku saat itu adalah G2P1 (kehamilan kedua, sebelumnya 1 kali melahirkan).

Tahun ini, aku kembali terlambat haid dan ketika di-USG juga kantong rahim tak terlihat. Trauma dengan kejadian tahun lalu, aku berdiskusi dengan dokterku dan dia berkata bahwa yang aku alami adalah kehamilan biokimia (biochemical pregnancy).

Apa sih Biochemical Pregnancy itu?

Menurut http://www.newyorkfertilityservices.com, Biochemical Pregnancy adalah termasuk KEHAMILAN. Karena sudah jelas, embrio terbentuk dan hormon kehamilan (Beta HCG) telah muncul (itu sebabnya testpack jadi positif). Masa-masa di mana embrio sudah terbentuk namun belum menempel ke dinding rahim inilah yang disebut masa biokimia (biochemical), karena pada masa-masa ini, seorang perempuan dibilang hamil hanya dan bila hanya dilakukan test terhadapnya.

Soalnya perutnya masih rata, belum berubah bentuk. Kulit juga masih belum mulai terpigmentasi. Dan ketika dilakukan ultrasonografi pun, belum ada kantong rahim membesar.

Tapi, apakah bila seorang perempuan mengalami masa biokimia lalu embrionya luruh dan tidak menempel, bisa dikatakan hamil lalu keguguran? Bisa!

Kehamilan dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir, dan apabila hormon Beta HCG terbentuk, maka sudah jelas ada embrio yang tumbuh. Apakah embrio tersebut sudah tertanam di dinding rahim atau luruh, hanya Allah yang tahu. Dan apabila embrio tersebut luruh, maka ibu bisa dikatakan mengalami keguguran. Tercatatlah statusnya sebagai A1 (atau A seterusnya bila sebelumnya pernah mengalami keguguran).

Itulah yang aku alami tahun lalu. ^_^

Well, ya, walaupun bikin beberapa orang kecewa (termasuk diri sendiri), Aku menerima ini sebagai suratan takdir. 🙂


Kado itu Datang Juga ♥

15 Juni 2017

Hallo… Assalamualaikum…

Aku punya kabar gembira, setelah 7 tahun penantian, Allah memberikan sebuah kado kepada kami. #AbangZimam mau punya adik ^_^

2018-01-02-09-17-52

Sekarang usianya sudah 7 minggu lebih. Tapi tahu, gak? Kado ini gak gampang loh kami peroleh.

Berawal ketika aku merasa haidku terlambat 6 hari, entah kenapa, seperti saat aku keguguran tahun lalu, aku merasa punya insting untuk testpack. Dan seperti diduga, hasilnya samar. Diulang bada isya masih samar. Diulang subuh keesokan harinya dengan pipis pertama, masih juga samar.

2018-01-02-08-49-20

Untungnya Pak Suami datang dari Jogja malamnya, jadi besoknya aku bisa ngajak dia ke dokter kandungan buat periksa.

Kami pun ke dokter kandungan di RS Hermina Jatinegara. Pertimbangannya, selain dekat, RS itu termasuk mantan RSIA yang udah pasti fokus ke ibu dan bayi. Aku juga pernah periksa ke sana jadi masih ada rekam medisku di sana. Aku asal memilih obgyn karena belum ada yang dirasa cocok. Kami memilih dokter Eva Febia karena dokter itu yag antriannya paling pendek Open-mouthed smile

Di ruang praktik, ketika diperiksa, ternyata seperti tahun lalu, saat G2P1 ada di dalam perut, gak kelihatan kantung rahimnya walau sudah 5 minggu. Padahal Abang Zimam umur segitu kantong rahimnya udah gede.

Akupun menceritakan bahwa tahun lalu aku mengalami hal yang sama, telat haid, testpack positif, di-USG yang kelihatan, 15 hari kemudian haid banyak banget, diperiksa lagi, rahim sudah kosong. Dokter Eva berkata kemungkinan yg aku alami adalah Biochemical Pregnancy (Kehamilan Biokimia). Nanti aku posting tentang Kehamilan Biokimia ini, ya.

Dokterpun meresepkan pil progesteron yang diminum 1x sehari selama 30 hari. Tujuannya untuk menyuburkan dinding rahim agar janin bisa nempel ke rahim. Dan aku disuruh testpack minggu depannya.

2018-02-02-10-58-47

Waktu berlalu, ternyata pil progesteron ditambah puasa Ramadhan sukses membuat asam lambungku naik dan mual sekali. Curhatlah aku ke adik kelasku yang obgyn, dia menyarankan aku kembali ke dokter dan merekomendasikan teman obgynnya di Hermina, dokter Sitti Fausihar.

Kami pun ke dokter tersebut. Dokter Sitti mengubah progesteronnya menjadi yang anal, dipakai seminggu. Serta memberikan beberapa resep agar aku bisa puasa dengan baik. Wuih, progesteron anal-nya itu gede loh, dan aku harus memakainya sebelum tidur. Itu sesuatuh!! Open-mouthed smile

Kemudian, seperti dilihat di atas, 2 hari yang lalu kami kembali ke dokter Sitti, dan hasilnya kantong rahim sudah terlihat ^_^

Alhamdulillah….

Kado indah ini insyaAllah akan kami jaga sampai waktunya tiba Smile

Mohon doanya ya….